Struktur Organisasi
Organisasi adalah adalah
suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama.
Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang
berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana,
terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya,
sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan
efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
Struktur Organisasi
adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian secara posisi yang ada
pada perusahaaan dalam menjalin kegiatan operasional untuk mencapai tujuan
Struktur organisasi adalah
bagaimana pekerjaan dibagi, dikelompokkan, dan dikoordinasikan secara formal.
A.
Faktor-Faktor Struktur Organisasi
Menurut Helena J.M. Pennings dalam Research in Organizational Behavior, Berikut adalah faktor-faktor utama yang
diidentifikasi menjadi penyebab atau penentu struktur suatu organisasi:
a.
Strategi
Struktur
organisasi adalah salah satu sarana yang digunakan manajemen untuk mencapai
sasarannya. Karena sasaran diturunkan dari strategi organisasi secara
keseluruhan, logis kalau strategi dan struktur harus terkait erat. Tepatnya, struktur harus mengikuti strategi.
Jika manajemen melakukan perubahan signifikan dalam strategi organisasinya,
struktur pun perlu dimodifikasi untuk menampung dan mendukung perubahan ini.
Sebagian besar kerangka strategi dewasa ini terfokus pada tiga dimensi
-inovasi, minimalisasi biaya, dan imitasi- dan pada desain struktur yang
berfungsi dengan baik untuk masing-masing dimensi.
b.
Ukuran Organisasi
Terdapat
banyak bukti yang mendukung ide bahwa ukuran sebuah organisasi secara
signifikan memengaruhi strukturnya. Sebagai
contoh, organisasi-organisasi besar yang mempekerjakan 2.000 orang atau lebih
cenderung memiliki banyak spesialisasi, departementalisasi, tingkatan vertikal,
serta aturan dan ketentuan daripada organisasi kecil. Namun,
hubungan itu tidak bersifat linier. Alih-alih,
ukuran memengaruhi struktur dengan kadar
yang semakin menurun. Dampak ukuran menjadi kurang penting saat organisasi
meluas.
c.
Teknologi
Istilah teknologi mengacu pada cara sebuah organisasi mengubah input menjadi output. Setiap organisasi paling tidak memiliki
satu teknologi untuk mengubah sumber
daya finansial, SDM, dan
sumber daya fisik menjadi produk atau jasa.
d.
Lingkungan
Struktur organisasi dipengaruhi oleh lingkungannya karena
lingkungan selalu berubah. Beberapa
organisasi menghadapi lingkungan yang relatif statis -tak banyak kekuatan di
lingkungan mereka yang berubah. Misalnya,
tidak muncul pesaing baru, tidak ada terobosan teknologi baru oleh pesaing saat
ini, atau tidak banyak aktivitas dari kelompok-kelompok tekanan publik yang
mungkin memengaruhi organisasi. Organisasi-organisasi
lain menghadapi lingkungan yang sangat dinamis -peraturan pemerintah cepat
berubah dan memengaruhi bisnis mereka, pesaing
baru, kesulitan dalam mendapatkan bahan baku, preferensi pelanggan yang terus
berubah terhadap produk, dan semacamnya. Secara signifikan, lingkungan yang
statis memberi lebih sedikit ketidakpastian bagi para manajer dibanding lingkungan yang
dinamis. Karena
ketidakpastian adalah sebuah ancaman bagi keefektifan sebuah organisasi, manajemen akan menocba
meminimalkannya. Salah
satu cara untuk mengurangi ketidakpastian lingkungan adalah melalui penyesuaian
struktur organisasi.
B.
Fungsi Struktur Organisasi
Fungsi struktur dalam sebuah organisasi adalah memberikan
informasi kepada seluruh manusia yang menjadi anggotanya untuk mengetahui
kegiatan atau pekerjaan yang harus ia kerjakan, berkonsultasi atau bertanggung
jawab kepada siapa, sehingga proses kerjasama menuju pencapaian tujuan
organisasi dapat terwujud sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan
sebelumnya. Kejelasan gambaran struktur organisasi akan memberikan kemudahan
bagi pimpinan untuk mendistribusikan jabatan kepada seseorang yang tepat, sehingga
daya guna dan hasil guna dapat terwujud.
Fungsi atau kegunaan struktur dalam sebuah
organisasi dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.
Kejelasan Tanggung Jawab. Setiap anggota
organisasi harus bertanggung jawab dan apa yang harus dipertanggung jawabkan.
2.
Kejelasan Kedudukan. Kejelasan
kedudukan seseorang dalam struktur organsisasi mempermudah melakukan koordinasi
maupun hubungan karena adanya keterkaitan penyelesaian suatu fungsi yang
dipercayakan kepada seseorang.
3.
Kejelasan Uraian Tugas. Kejelasan
uraian tugas dalam struktur organisasi membantu pihak pimpinan untuk melakukan
pengawasan dan pengendalian, dan bawahan akan dapat berkonsentrasi dalam
melaksanakan suatu pekerjaan karena uraian yang jelas.
4.
Kejelasan Jalur Hubungan. Dalam pelaksaan
tugas dan tanggung jawab setiap karyawan atau pegawai dalam sebuah organisasi,
maka dibutuhkan kejelasan hubungan yang tergambar dalam struktur, sehingga
jalur penyelesaian pekerjaan akan semakin efektif dan dapat saling
menguntungkan.
C.
Proses Pengorganisasian
Proses Pengorganisasian adalah suatu
cara pengaturan pekerjaan dan pengalokasian pekerjaan di antara para anggota
organisasi sehingga tujuan organisasi dapat dicapai secara efisien (Stoner,
1996).
Menurut Stoner, terdapat langkah-langkah dalam proses
organisasi, yaitu:
1.
Merincikan
seluruh tugas pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk pencapaian tujuan
organisasi.
2.
Membagi beban kerja kepada seseorang atau
sekelompok orang.
3.
Mengkombinasikan pekerjaan anggota organisasi
dengan efisien.
4.
Penetapan mekanisme untuk mengkoordinasi
pekerjaan anggota organisasi dalam satu kesatuan yang harmonis.
5.
Memantau efektivitas organisasi dan mengambil
langkah-langkah penyesuaian untuk mempertahankan atau meningkatkan efektivitas.
Kelima langkah-langkah organisasi ini merupakan sebuah
satu-kesatuan yang harus dilakukan secara tepat dan cermat oleh seorang atasan,
agar pembagian tugas pekerjaan kepada seluruh bawahannya dapat diberikan
secara jelas dan terkoordinasi.
D.
Elemen-Elemen Struktur Organisasi
Menurut Stephen Robbins dan Timothy A. Judge dalam Perilaku
Organisasi Buku 2, ada
enam elemen kunci yang
perlu diperhatikan oleh para manajer ketika hendak mendesain
struktur, antara lain:
1.
Spesialisasi pekerjaan. Sejauh mana
tugas-tugas dalam organisasi dibagi-bagi
ke dalam beberapa pekerjaan tersendiri.
2.
Departementalisasi. Dasar yang dipakai untuk mengelompokkan
pekerjaan secara bersama-sama.
3.
Rantai komando. Garis wewenang yang
tanpa putus yang membentang dari puncak organisasi ke eselon paling
bawah dan menjelaskan siapa bertanggung jawab kepada siapa.
4.
Rentang kendali. Jumlah bawahan yang
dapat diarahkan oleh seorang manajer secara efisien dan efektif.
5. Sentralisasi dan
Desentralisasi. Sentralisasi mengacu pada sejauh mana tingkat pengambilan
keputusan terkonsentrasi pada satu titik di dalam organisasi.
Desentralisasi adalah lawan dari sentralisasi.
6. Formalisasi. Sejauh mana
pekerjaan-pekerjaan di dalam organisasi dibakukan.
E.
Bentuk-Bentuk Organsisasi
Berikut adalah bentuk-bentuk organisasi
yang ada:
1.
Organisasi Politik
Organisasi politik adalah organisasi atau kelompok yang bergerak atau
berkepentingan atau terlibat dalam proses politik dan dalam ilmu kenegaraan, secara
aktif berperan dalam menentukan nasib bangsa tersebut.
2.
Organisasi Sosial
Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak
berbadan hukum,
yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa
dan negara.
3.
Organisasi Mahasiswa
Organisasi mahasiswa adalah organisasi yang beranggotakan mahasiswa sebagai
wadah kegiatan ko dan atau ekstra kurikuler. Organisasi ini dapat berupa organisasi
kemahasiswaan intra kampus, organisasi kemahasiswaan antar kampus, organisasi ekstra kampus maupun semacam ikatan mahasiswa kedaerahan yang pada umumnya beranggotakan lintas
atau antar kampus.
4. Organisasi Sekolah
Organisasi
sekolah adalah sistem yang bergerak dan berperan dalam merumuskan tujuan
pendewasaan manusia sebagai mahluk sosial agar mampu berinteraksi dengan
lingkungan.
Sumber:
-
Robbins, Stephen P.; Judge, Timothy A. (2008). Perilaku
Organisasi Buku 2, Jakarta: Salemba Empat.
-
Pennings, J. M. Research in Organizational Behavior, vol. 14, Greenwich, CT: JAI Press, 1992
Tidak ada komentar:
Posting Komentar