A.
Pengertian Manajemen
Menurut G.R. Terry: “Manajemen
adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau
pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau
maksudmaksud yang nyata.”
Menurut Ricky W. Griffin: “Manajemen
sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan
pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan
efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan,
sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar,
terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.”
Menurut Federick Winslow Taylor: “Manajemen
adalah Suatu percobaan yang sungguh-sungguh untuk menghadapi setiap persoalan
yang timbul dalam pimpinan perusahaan (dan organisasi lain)atau setiap system
kerjasama manusia dengan sikap dan jiwa seorang sarjana dan dengan menggunakan
alat-alat perumusan.”
Secara luas manajemen dapat diartikan sebagai perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian (P4) sumber daya organisasi
untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien
B.
Pengertian Perubahan
Dalam
KBBI perubahan berarti: hal (keadaan) berubah; peralihan; pertukaran.
Perubahan dalam hal sosial berarti perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang
memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai, sikap-sikap sosial, dan pola perilaku di
antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
Perubahan terjadi
melalui revolusi, reformasi, evolusi, dan inovasi. Setiap orang tentu
berbeda-beda dalam menanggapi perubahan. Beberapa tanggapan tersebut antara
lain menolak, masa bodo, belum siap, dan siap. Perrbedaan tanggapan tersebut
membuat masing-masing orang mendapatkan pilihan yang berbeda-beda dari
perubahan. Pilihan tersebut yaitu:
1.
Menjadi
motor perubahan
Disini, kita
memiliki posisi di garda terdepan terhadap pross perubahan yang terjadi. Kita
dituntunt untuk memiliki pengetahuan tentang konsep dan alasan perlunya sebuah
perubahan harus dilakukan. Dengan demikian kita bisa mempengaruhi serta
meyakinkan pihak lain bahwa kondisi yang ada pada saat ini perlu diubah,
2.
Mendiamkan
perubahan
Posisi ini
merupakan posisi yang paling banyak dipilih oleh mereka yang ingin mengambil
posisi aman terhadap kondisi yang ada. Mereka tidak berada di posisi sebagai
pelopor perubahan, namun juga tidak menolak atas perubahan yang terjad.
Biasanya, orang-orang sepeti ini tergolong sebagai kaum oportunis. Dimana
ketika perubahan itu akan membawa keuntungan bagi mereka, maka perubahan itu
akan mereka dukung. Sebaliknya jka mereka melihat perbaan itu tidak membawa
keuntunan serta proses perubahan tersebut cenderung gagal, mereka memilih
posisi aman denagn diam pada posisi yang ada pada saat ini.
3.
Melawan
perubahan
Posisi ni bisa nya
dilakukan oleh pihak yang sudah merasa nyaman dan memiliki keuntungan atas
sebuah kondisi yang ada. Sehingga, mereka akan berusaha menolak semua usaha
yang bertujuan untuk menggantikan posisi yang sudah ada sebeumnya. Biasanya,
penoakan ini dilakukan karena pertimbangan materi dan kedudukan.
4.
Dirubah
oleh arus perubahan
Posisi diambil
oleh mereka yang melihat bahwa perubahan yang terjadi membawa sebuah perbaikan.
Sehingga mereka merasa perlu untuk mengikuti perubahan yang terjadi tersebut
secaa rasional, dan bukan atas dasar keinginan untuk mendapatkan keuntungan.
Namun lebih pada kesadaran bahwa perubahan tersebut memang pelu dilakukan serta
membawa ke arah kebaikan.
C.
Manajemen Perubahan
Manajemen
perubahan dilakukan ketika organisasi atau perusahaan membutuhkan langkah-langkah
untuk merubah sebagian atau seluruh sistem maupun struktur lama yang berlaku di
dalamnya demi penyesuaian dengan kondisi internal maupun eksternal organisasi.
Manajemen
perubahan ditujukan untuk memberi jalan keluar yang diperlukan dengan sukses
dengan cara terorganisasi dan dengan metode pengelolaan dampak perubahan pada orang
yang terlibat didalamnya. (Wibowo, 2006 : 37).
Manajemen perubahan menjadi sangat penting
diterapkan. Namun demikian dalam kenyataannya proses perubahan yang terjadi
tidak selalu mendapat respon positif. Ada saja mereka yang menyukai dan yang
tidak menyukai perubahan.
Beberapa alasan mengapa mereka bersikap
kontra perubahan
•
dapat
berupa rasa takut terhadap berkurang/hilangnya kekuasaan
•
kehilangan
ketrampilan
•
kegagalan
kerja
•
ketidakmampuan
menghadapi masalah baru
•
dan
kehilangan pekerjaan.
Manajer perlu memahami mengapa organisasi
harus siap terhadap perubahan: apakah yang bersifat inovatif maupun strategis.
Sejumlah
model atau konsep mengenai perubahan diberikan untuk memperjelas pemahaman
mengenai manajemen perubahan yang perlu dilakukan oleh organisasi:
1.
Teori Force Field: teori ini
mengemukakan bahwa perubahan terjadi karena munculnya tekanan- tekanan terhadap
organisasi, individu ataupun kelompok, dimana kekuatan tekanan (driving forces) berhadapan dengan
keengganan (resistances) untuk berubah sehingga agar terjadi perubahan maka harus
memperkuat driving forces dan memperlemah resistances
2.
Teori Motivasi: dalam teori ini perubahan akan terjadi
kalau ada sejumlah syarat tertentu yang menguntungka. Namun dengan memiliki
motivasi untuk berubah maka yang perlu dilakukan adalah fokus ke depan dengan
cara membuang sikap pesimis, menciptakan kepatuhan, serta mengurangi
ketidakpuasan.
3.
Teori Alfa, Beta, Gamma: dalam teori ini perubahan Alfa
adalah perubahan tingkat kepercayaan yang terjadi, perubahan Beta adalah
perubahan yang terjadi dalam menilai kepercayaan, sementara perubahan Gamma
adalah perubahan yang terjadi karena kelompok melihat adanya faktor lain yang
lebih penting.
4.
Teori Contingency: dalam
teori ini yang diamati adalah tingkat keberhasilan pengambilan keputusan yang
ditentukan oleh gaya yang dianut dalam mengelola perubahan serta sejumlah
kemungkinan.
5.
Teori Kerja Sama: teori kerja sama mempelajari bahwa
perubahan tidak bisa berjalan tanpa adanya kerja sama semua pihak.
6.
Teori Mengatasi Resistensi Dalam Perubahan: teori ini
membahas mengenai teknik yang dipakai dalam mengatasi resistensi seperti
komunikasi, partisipasi, fasilitasi, negosiasi, manipulasi hingga teknik paksa.
7.
Model Accounting-turnaround: teori ini melihat bahwa untuk dapat
diselamatkan sebuah korporat harus memiliki sejumlah syarat seperti dukungan stakeholders, ada core business yang mampu mendatangkancashflow, tim manajemen yang solid, serta sumber-
sumber pembiayaan terutama untuk jangka panjang. Biasanya perusahaan yang
melakukan turnaround adalah perusahaan yang mengalami penurunan akibat kerugian
terus menerus atau salah manajemen.
Terdapat
3 (tiga) hal penting yang perlu dipertimbangkan ketika kita hendak
mengelola orang dalam menghadapi perubahan, yakni :
1.
Pemahaman tentang tujuan
Hampir semua
orang yang berpikiran maju akan berorientasi pada suatu tujuan.
Begitupun suatu perubahan akan ditolak jika hal tersebut
bertentangan dengan tujuan seseorang, dan sebaliknya jika perubahan
tersebut masuk akal dan sejalan dengan tujuannya, maka orang tersebut akan
bersedia terlibat dalam suatu perubahan secara positif. Manajer
harus mepertimbangkan sebelum membuat suatu perubahan
Para manajer perlu memahami peta tujuan para pekerjanya,
terutama untuk memotivasi dan menilai para pekerja agar bersedia unjuk kinerja
terbaik mereka. Disamping itu, para manajer perlu membuka dialog tentang
sejauhmana dampak dari perubahan yang akan terjadi dan bagaimana
menyelaraskan perubahan pada sistem yang telah direncanakan dengan tujuan
individual para pekerja.
2.
Identitas
Pada
dasarnya, setiap orang membutuhkan rasa integritas dan konsistensi
pribadi dari waktu ke waktu. Setiap orang ingin menunjukkan tentang siapa diri
mereka yang sebenarnya, dan jika suatu perubahan ternyata mengancam rasa
identitas pribadinya, maka yang bersangkutan akan lebih aman untuk
mengembalikan keadaan ke kondisi status quo. Tuntutan akan rasa konsistensi
pribadi merupakan alasan untuk mempertahankan situasi stabilitas dan
menghindari ketidakpastian dari suatu perubahan organisasi. Dengan demikian
manajemen perlu mengembangkan alasan yang sangat menarik agar perubahan
dapat dipahami dan dapat diterima di seluruh organisasi.
3.
Penguasaan.
Yang
dimaksud penguasaan disini adalah berkenaan dengan keterampilan, kemampuan,
pengetahuan dan lain sebagainya, sehingga peningkatan penguasaan kerja
seseorang perlu dibarengi oleh pelatihan dan pendidikan profesional untuk mampu
bertahan dalam suatu perubahan. Paling tidak, perlu dilakukan suatu
dialog tentang dampak perubahan terhadap penguasaan profesional. Suatu
analisis kesenjangan keterampilan perlu segera dilakukan agar suatu perubahan
tidak menimbulkan “gap” keterampilan yang terlalu tajam. Oleh karenanya suatu
kesempatan belajar perlu diberikan untuk mencegah rasa tidak
berdaya dari para pekerja sebagai akibat terjadinya perubahan dalam organisasi.
Sejak dini organisasi perlu merencanakan suatu strategi pengembangan sumber
daya manusia (SDM) untuk memastikan bahwa mereka yang terkena dampak perubahan
memiliki jaring pengaman melalui pelatihan dan pengembangan keterampilan yang
tersedia bagi mereka.
beberapa
karakteristik para manajer yang efektif dalam memanage suatu perubahan, yakni:
·
Mampu membingkai perubahan dalam seluruh organisasi yang
berdampak pada perubahan individu. Mampu memberikan tantangan agar para pekerja
bersedia menyesuaikan diri dengan perubahan organisasi dengan menyediakan
sumber daya yang diperlukan;
·
Mampu mendorong dan menciptakan suasana yang
memungkinkan para pekerja menguji perubahan baru, menghasilkan rekomendasi,
bereksperimen dengan cara-cara operasi baru, dan mampu mengidentifikasi
perilaku disfungsional yang berakar dalam budaya;
·
Mampu memimpin upaya perubahan dengan setiap kata dan
perbuatan. Pendeknya, mereka adalah panutan bagi organisasi. Para menejer
perubahan memiliki argumen bisnis yang menarik dan sah untuk dilakukannya
suatu perubahan, dan pada saat yang sama mampu mengidentifikasi dan mengatasi
potensi resistensi. Sebagaimana yang pernah diucapkan Niccolo Machiavelli
bahwa “barang siapa yang menginginkan kesuksesan maka harus mengubah
perilakunya secara konstran seiring dengan berjalannya waktu.” Atau dengan
perkataan lain, mereka sanggup menunjukkan dedikasi secara konstan untuk
mengubah kenyataan. Dengan demikian, mereka akan senantiasa berfokus pada
hasil, keberhasilan, dan mampu menganalisis kegagalan untuk mencari alasan
mengapa hal itu terjadi, dan bagaimana mendorong orang lain agar termotivasi untuk
mencoba lagi; dan
·
Mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan individu dan
tim kerja dalam organisasi untuk menjelaskan: apa,oleh siapa, kapan, di mana,
mengapa, dan bagaimana perubahan tersebut perlu dilakukan. Para manajer
perubahan memanfaatkan setiap kesempatan untuk berinteraksi dengan para
pekerja, menemukan legitimasi perubahan yang diperlukan, mampu menjawab
pertanyaan dan mengajukan tantangan.
Dengan
demikian, para manajer perlu menyadari bahwa terdapat kesenjangan
pemahaman tentang perubahan di seluruh organisasi, sehingga pada
setiap kesempatan mereka mampu memanfaatkan sarana komunikasi yang tersedia
untuk membantu memperkecil kesenjangan tersebut.
Sumber