Sabtu, 26 Oktober 2013

Manajemen Perubahan


A.      Pengertian Manajemen
Menurut G.R. Terry: “Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksudmaksud yang nyata.
Menurut Ricky W. Griffin: “Manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.
Menurut Federick Winslow Taylor: “Manajemen adalah Suatu percobaan yang sungguh-sungguh untuk menghadapi setiap persoalan yang timbul dalam pimpinan perusahaan (dan organisasi lain)atau setiap system kerjasama manusia dengan sikap dan jiwa seorang sarjana dan dengan menggunakan alat-alat perumusan.
Secara luas manajemen dapat diartikan sebagai perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian (P4) sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien
B.      Pengertian Perubahan
Dalam KBBI perubahan berarti: hal (keadaan) berubah; peralihan; pertukaran. Perubahan dalam hal sosial berarti perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai, sikap-sikap sosial, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
Perubahan terjadi melalui revolusi, reformasi, evolusi, dan inovasi. Setiap orang tentu berbeda-beda dalam menanggapi perubahan. Beberapa tanggapan tersebut antara lain menolak, masa bodo, belum siap, dan siap. Perrbedaan tanggapan tersebut membuat masing-masing orang mendapatkan pilihan yang berbeda-beda dari perubahan. Pilihan tersebut yaitu:
1.       Menjadi motor perubahan
Disini, kita memiliki posisi di garda terdepan terhadap pross perubahan yang terjadi. Kita dituntunt untuk memiliki pengetahuan tentang konsep dan alasan perlunya sebuah perubahan harus dilakukan. Dengan demikian kita bisa mempengaruhi serta meyakinkan pihak lain bahwa kondisi yang ada pada saat ini perlu diubah,
2.       Mendiamkan perubahan
Posisi ini merupakan posisi yang paling banyak dipilih oleh mereka yang ingin mengambil posisi aman terhadap kondisi yang ada. Mereka tidak berada di posisi sebagai pelopor perubahan, namun juga tidak menolak atas perubahan yang terjad. Biasanya, orang-orang sepeti ini tergolong sebagai kaum oportunis. Dimana ketika perubahan itu akan membawa keuntungan bagi mereka, maka perubahan itu akan mereka dukung. Sebaliknya jka mereka melihat perbaan itu tidak membawa keuntunan serta proses perubahan tersebut cenderung gagal, mereka memilih posisi aman denagn diam pada posisi yang ada pada saat ini.
3.       Melawan perubahan
Posisi ni bisa nya dilakukan oleh pihak yang sudah merasa nyaman dan memiliki keuntungan atas sebuah kondisi yang ada. Sehingga, mereka akan berusaha menolak semua usaha yang bertujuan untuk menggantikan posisi yang sudah ada sebeumnya. Biasanya, penoakan ini dilakukan karena pertimbangan materi dan kedudukan.
4.       Dirubah oleh arus perubahan
Posisi diambil oleh mereka yang melihat bahwa perubahan yang terjadi membawa sebuah perbaikan. Sehingga mereka merasa perlu untuk mengikuti perubahan yang terjadi tersebut secaa rasional, dan bukan atas dasar keinginan untuk mendapatkan keuntungan. Namun lebih pada kesadaran bahwa perubahan tersebut memang pelu dilakukan serta membawa ke arah kebaikan.
C.      Manajemen Perubahan
Manajemen perubahan dilakukan ketika organisasi atau perusahaan membutuhkan langkah-langkah untuk merubah sebagian atau seluruh sistem maupun struktur lama yang berlaku di dalamnya demi penyesuaian dengan kondisi internal maupun eksternal organisasi.
Manajemen perubahan ditujukan untuk memberi jalan keluar yang diperlukan dengan sukses dengan cara terorganisasi dan dengan metode pengelolaan dampak perubahan pada orang yang terlibat didalamnya. (Wibowo, 2006 : 37).
Manajemen perubahan menjadi sangat penting diterapkan. Namun demikian dalam kenyataannya proses perubahan yang terjadi tidak selalu mendapat respon positif. Ada saja mereka yang menyukai dan yang tidak menyukai perubahan.

Beberapa alasan mengapa mereka bersikap kontra perubahan
           dapat berupa rasa takut terhadap berkurang/hilangnya kekuasaan
           kehilangan ketrampilan
           kegagalan kerja
           ketidakmampuan menghadapi masalah baru
           dan kehilangan pekerjaan.
Manajer perlu memahami mengapa organisasi harus siap terhadap perubahan: apakah yang bersifat inovatif maupun strategis.

Sejumlah model atau konsep mengenai perubahan diberikan untuk memperjelas pemahaman mengenai manajemen perubahan yang perlu dilakukan oleh organisasi:
1.    Teori Force Field: teori ini mengemukakan bahwa perubahan terjadi karena munculnya tekanan- tekanan terhadap organisasi, individu ataupun kelompok, dimana kekuatan tekanan (driving forces) berhadapan dengan keengganan (resistances) untuk berubah sehingga agar terjadi perubahan maka harus memperkuat driving forces dan memperlemah resistances
2.    Teori Motivasi: dalam teori ini perubahan akan terjadi kalau ada sejumlah syarat tertentu yang menguntungka. Namun dengan memiliki motivasi untuk berubah maka yang perlu dilakukan adalah fokus ke depan dengan cara membuang sikap pesimis, menciptakan kepatuhan, serta mengurangi ketidakpuasan.
3.    Teori Alfa, Beta, Gamma: dalam teori ini perubahan Alfa adalah perubahan tingkat kepercayaan yang terjadi, perubahan Beta adalah perubahan yang terjadi dalam menilai kepercayaan, sementara perubahan Gamma adalah perubahan yang terjadi karena kelompok melihat adanya faktor lain yang lebih penting.
4.    Teori Contingency: dalam teori ini yang diamati adalah tingkat keberhasilan pengambilan keputusan yang ditentukan oleh gaya yang dianut dalam mengelola perubahan serta sejumlah kemungkinan.
5.    Teori Kerja Sama: teori kerja sama mempelajari bahwa perubahan tidak bisa berjalan tanpa adanya kerja sama semua pihak.
6.    Teori Mengatasi Resistensi Dalam Perubahan: teori ini membahas mengenai teknik yang dipakai dalam mengatasi resistensi seperti komunikasi, partisipasi, fasilitasi, negosiasi, manipulasi hingga teknik paksa.
7.    Model Accounting-turnaround: teori ini melihat bahwa untuk dapat diselamatkan sebuah korporat harus memiliki sejumlah syarat seperti dukungan stakeholders, ada core business yang mampu mendatangkancashflow, tim manajemen yang solid, serta sumber- sumber pembiayaan terutama untuk jangka panjang. Biasanya perusahaan yang melakukan turnaround adalah perusahaan yang mengalami penurunan akibat kerugian terus menerus atau salah manajemen.
Terdapat 3 (tiga) hal penting yang perlu dipertimbangkan ketika kita hendak  mengelola orang dalam menghadapi perubahan, yakni :
1.       Pemahaman tentang tujuan
Hampir semua orang yang berpikiran maju  akan berorientasi pada suatu  tujuan.  Begitupun suatu perubahan akan ditolak jika hal tersebut  bertentangan dengan  tujuan seseorang, dan sebaliknya jika perubahan tersebut masuk akal dan sejalan dengan tujuannya, maka orang tersebut akan bersedia terlibat dalam suatu perubahan  secara  positif. Manajer harus mepertimbangkan sebelum membuat suatu perubahan
Para manajer perlu memahami peta tujuan para pekerjanya, terutama untuk memotivasi dan menilai para pekerja agar bersedia unjuk kinerja terbaik mereka. Disamping itu, para manajer perlu membuka dialog tentang sejauhmana dampak dari perubahan yang akan terjadi dan bagaimana  menyelaraskan perubahan pada sistem yang telah direncanakan dengan tujuan individual para pekerja.  
2.       Identitas
Pada dasarnya, setiap orang  membutuhkan rasa integritas dan konsistensi pribadi dari waktu ke waktu. Setiap orang ingin menunjukkan tentang siapa diri mereka yang sebenarnya, dan jika suatu perubahan ternyata mengancam rasa identitas pribadinya, maka yang bersangkutan akan lebih aman untuk mengembalikan keadaan ke kondisi status quo. Tuntutan akan rasa konsistensi pribadi merupakan alasan untuk mempertahankan situasi stabilitas dan menghindari ketidakpastian dari suatu perubahan organisasi. Dengan demikian manajemen perlu mengembangkan alasan yang sangat menarik agar perubahan  dapat dipahami dan dapat diterima di seluruh organisasi.
3.       Penguasaan.
Yang dimaksud penguasaan disini adalah berkenaan dengan keterampilan, kemampuan, pengetahuan dan lain sebagainya,  sehingga peningkatan penguasaan kerja seseorang perlu dibarengi oleh pelatihan dan pendidikan profesional untuk mampu bertahan dalam suatu perubahan. Paling tidak,  perlu dilakukan suatu dialog tentang dampak perubahan  terhadap penguasaan profesional. Suatu analisis kesenjangan keterampilan perlu segera dilakukan agar suatu perubahan tidak menimbulkan “gap” keterampilan yang terlalu tajam. Oleh karenanya suatu kesempatan belajar perlu diberikan   untuk mencegah rasa tidak berdaya dari para pekerja sebagai akibat terjadinya perubahan dalam organisasi. Sejak dini organisasi perlu merencanakan suatu strategi pengembangan sumber daya manusia (SDM) untuk memastikan bahwa mereka yang terkena dampak perubahan memiliki jaring pengaman melalui pelatihan dan pengembangan keterampilan yang tersedia bagi mereka.
beberapa karakteristik para manajer yang efektif dalam memanage  suatu perubahan, yakni:
·         Mampu membingkai perubahan dalam seluruh organisasi yang berdampak pada perubahan individu. Mampu memberikan tantangan agar para pekerja bersedia menyesuaikan diri dengan perubahan organisasi dengan menyediakan sumber daya yang diperlukan;
·         Mampu  mendorong dan menciptakan suasana yang memungkinkan para pekerja menguji perubahan baru, menghasilkan rekomendasi, bereksperimen dengan cara-cara operasi baru, dan mampu mengidentifikasi  perilaku disfungsional yang berakar dalam budaya;
·         Mampu memimpin upaya perubahan dengan setiap kata dan perbuatan. Pendeknya, mereka adalah panutan bagi organisasi. Para menejer perubahan memiliki argumen  bisnis yang menarik dan sah untuk dilakukannya suatu perubahan, dan pada saat yang sama mampu mengidentifikasi dan mengatasi potensi resistensi. Sebagaimana yang pernah diucapkan Niccolo Machiavelli  bahwa “barang siapa yang menginginkan kesuksesan maka harus mengubah perilakunya secara konstran seiring dengan berjalannya waktu.” Atau dengan perkataan lain, mereka sanggup menunjukkan  dedikasi secara konstan untuk mengubah kenyataan. Dengan demikian, mereka akan senantiasa berfokus pada hasil, keberhasilan, dan mampu menganalisis kegagalan untuk mencari alasan mengapa hal itu terjadi, dan bagaimana mendorong orang lain agar termotivasi untuk mencoba lagi; dan
·         Mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan individu dan tim kerja dalam organisasi untuk menjelaskan: apa,oleh siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana perubahan tersebut perlu dilakukan. Para manajer perubahan memanfaatkan setiap kesempatan untuk berinteraksi dengan para pekerja, menemukan legitimasi perubahan yang diperlukan, mampu menjawab pertanyaan dan mengajukan tantangan.
Dengan demikian, para manajer perlu menyadari bahwa terdapat kesenjangan  pemahaman tentang perubahan di seluruh organisasi, sehingga  pada  setiap kesempatan mereka mampu memanfaatkan sarana komunikasi yang tersedia untuk membantu memperkecil kesenjangan tersebut.

Sumber










                                                              

Minggu, 06 Oktober 2013

Koordinasi

Koordinasi

A.      Pengertian Koordinasi, Kooperasi, dan Sinergi
Dalam KBBI edisi 3, Koordinasi adalah perihal mengatur suatu organisasi atau kegiatan sehingga peraturan dan tindakan yg akan dilaksanakan tidak saling bertentangan atau simpang siur. Menurut G.R. Terry koordinasi adalah suatu usaha yang sinkron dan teratur untuk menyediakan jumlah dan waktu yang tepat, dan mengarahkan pelaksanaan untuk menghasilkan suatu tindakan yang seragam dan harmonis pada sasaran yang telah ditentukan.  Sedangkan menurut E.F.L. Brech, koordinasi adalah mengimbangi dan menggerakkan tim dengan memberikan lokasi kegiatan pekerjaan yang cocok dengan masing-masing dan menjaga agar kegiatan itu dilaksanakan dengan keselarasan yang semestinya di antara para anggota itu sendiri.
 Jadi dapat disimpulkan bahwa Koordinasi adalah kegiatan mengatur dalam organisasi yang membuat orang-orang yang berbeda pendapat atau hal-hal berbeda dapat bekerja bersama demi mencapai sebuah tujuan dalam organisasi.
Berbeda dari Koordinasi, Kooperasi adalah kegiatan bekerja sama dengan tujuan bersama. Kooperasi tidak memerlukan pengaturan atau menyamakan perbedaan selama tujuan mereka dapat tercapai.
Sinergi dalam KBBI edisi ketiga adalah kegiatan atau operasi gabungan. Dalam bisnis, sinergi bisa  berarti sebagai kerjasama yang akan menghasilkan hasil yang lebih baik jika setiap orang dalam sebuah kelompok bekerja untuk tujuan yang sama secara individu.  Sinergi dalam manajemen berarti gabungan usaha individu sebagai partisipan dari kelompok. Kondisi yang ada ketika bagian organisasi berinteraksi untuk menghasilkan efek gabungan yang lebih dari bagian yang bekerja sendirian.
Jadi bisa disimpulkan bahwa sinergi adalah interaksi beberapa elemen dalam sistem untuk menghasilkan efek yang berbeda dari atau lebih besar daripada jumlah efek masing-masing.
B.      Jenis Koordinasi
Ada beberapa jenis-jenis Koordinasi
1.       Koordinasi Horizontal
Koordinasi horizontal adalah koordinasi antara orang-orang yang mempunyai tingkatan sama dalam sebuah organisasi.
2.       Koordinasi Vertikal atau Struktural
Koordinasi vertical adalah koordinasi antara atasan dan bawahannya.
3.       Koordinasi Intern
Koordinasi intern adalah koordinasi dengan orang-orang yang ada di satu organisasi
4.       Koordinasi ekstern
Koordinasi ekstern adalah koordinasi dengan pihak-pihak yang ada di luar organisasi
5.       Koordinasi Diagonal
Koordinasi diagonal adalah koordinasi atasan-bawahan antar departemen
6.       Koordinasi Fungsional
Koordinasi fungsional adalah koordinasi antar orang atau antar unit pada fungsi sama pada sebuah organisasi
7.       Koordinasi Prosedural
Koordinasi procedural adalah koordinasi antar orang atau antar unit sesuai dengan struktur organisasi
8.       Koordinasi Substantif
Koordinasi substantive adalah koordinasi yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan

C.      Tujuan dan Manfaat Koordinasi
Tujuan dan manfaat koordinasi antara lain sebagai berikut :
1.       Untuk mewujudkan KISS (koordinasi,integrasi,sinkronisasi, dan simplifikasi) agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien.
2.       Memecahkan konflik kepentingan berbagai pihak yang terkait.
3.       Agar menejer pendidikan mampu mengintregrasikan kegiatan fungsional dinas pendidikan dan tujuan-tujuan dari unit organisasi yang terpisah-pisah untuk mencapai tujuan bersama dengan sumber daya yang terbatas secara efektif dan efisien.
4.       Adanya pembagian kerja dimana semakin besar pembagian kerja,semakin diperlukan pengoordinasian/penyerasian sehingga tidak terjadi duplikasi atau tumpang-tindih pekerjaan yang menyebabkan pemborosan.
5.       Untuk mengembangkan dan memelihara hubungan yang baik dan harmonis di antara kegiatan-kegiatan, baik fisik maupun nonfisik.
6.       Untuk memperlancar pelaksanaan tugas dalam rangka mencapai tujuan dengan sumber daya yang terbatas.
7.       Mencegah terjadinya konflik interal dan eksternal  yang kontra produktif.
8.       Mencegah terjadinya kekosongan ruang dan waktu.
9.        Mencegah terjadinya persaingan yang tidak sehat

D.      Prinsip Koordinasi

Secara rinci prinsip-prinsip Koordinasi adalah:
a.       Prinsip kesatuan arah dan tujuan
b.      Prinsip kesepakatan tentang kegiatan yang harus dilakukan masing-masing pihak
c.       Prinsip ketaatan atau loyalitas
d.      Prinsip bertukar informasi tentang kegiatan, hasil yang dicapai, dan masalah yang dihadapi
e.      Prinsip saling menghormati
f.        Prinsip profesionalitas
g.       Prinsip saling dapat dipercaya
h.      Prinsip ketepatan penggunaan alat koordinasi
i.         Prinsip efisiensi
j.        Prinsip adanya coordinator atau pemimpin yang mampu memimpin dan memonitor seluruh pelaksanaan kerja sama dalam organisasi.
Koordinasi akan berlangsung secara efektif apabila dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan dari tahap awal sampai akhir pekerjaan; mengupayakan hubungan dan pertemuan pertemuan diantara berbagai pihak yang terkait, serta mengembangkan keterbukaan sehingga jika terdapat perbedaan pandangan dapat didiskusikan dan dipecahkan bersama.

E.       Karakteristik Koordinasi yang Efektif
1.       Tujuan berkoordinasi tercapai dengan memuaskan semua pihak terkait.
2.       Koordinator sangat proaktif dan kooperatif.
3.       Tidak ada yang mementingkan diri sendiri atau kelompoknya (egosektoral).
4.       Tidak terjadi tumpang tindih tugas.
5.       Komitmen semua pihak tinggi.
6.       Informasi keputusan mengalir cepat ke semua pihak yang ada dalam sistem jaringan koordinasi.
7.       Tidak merugikan pihak-pihak yang berkoordinasi.

8.       Semua masalah terpecahkan.
9.       Tersedianya laporan tertulis yang lengkap dan rinci oleh masing-masing stakeholder.

Sumber:
-          Wiryoputro, Sugiyanto. Dasar-Dasar Manajemen Kristiani. Jakarta: BPK Gunung Mulia