Jumat, 27 September 2013

Struktur Organisasi

Struktur Organisasi

Organisasi adalah adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama. Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya, sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
Struktur Organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian secara posisi yang ada pada perusahaaan dalam menjalin kegiatan operasional untuk mencapai tujuan
Struktur organisasi adalah bagaimana pekerjaan dibagi, dikelompokkan, dan dikoordinasikan secara formal.

A.      Faktor-Faktor Struktur Organisasi

Menurut Helena J.M. Pennings dalam Research in Organizational Behavior, Berikut adalah faktor-faktor utama yang diidentifikasi menjadi penyebab atau penentu struktur suatu organisasi:

a.       Strategi
Struktur organisasi adalah salah satu sarana yang digunakan manajemen untuk mencapai sasarannya. Karena sasaran diturunkan dari strategi organisasi secara keseluruhan, logis kalau strategi dan struktur harus terkait erat. Tepatnya, struktur harus mengikuti strategi. Jika manajemen melakukan perubahan signifikan dalam strategi organisasinya, struktur pun perlu dimodifikasi untuk menampung dan mendukung perubahan ini. Sebagian besar kerangka strategi dewasa ini terfokus pada tiga dimensi -inovasi, minimalisasi biaya, dan imitasi- dan pada desain struktur yang berfungsi dengan baik untuk masing-masing dimensi.

b.      Ukuran Organisasi
Terdapat banyak bukti yang mendukung ide bahwa ukuran sebuah organisasi secara signifikan memengaruhi strukturnya. Sebagai contoh, organisasi-organisasi besar yang mempekerjakan 2.000 orang atau lebih cenderung memiliki banyak spesialisasi, departementalisasi, tingkatan vertikal, serta aturan dan ketentuan daripada organisasi kecil. Namun, hubungan itu tidak bersifat linier. Alih-alih, ukuran memengaruhi struktur dengan kadar yang semakin menurun. Dampak ukuran menjadi kurang penting saat organisasi meluas.

c.       Teknologi
Istilah teknologi mengacu pada cara sebuah organisasi mengubah input menjadi output. Setiap organisasi paling tidak memiliki satu teknologi untuk mengubah sumber daya finansial, SDM, dan sumber daya fisik menjadi produk atau jasa.

d.      Lingkungan
Struktur organisasi dipengaruhi oleh lingkungannya karena lingkungan selalu berubah. Beberapa organisasi menghadapi lingkungan yang relatif statis -tak banyak kekuatan di lingkungan mereka yang berubah. Misalnya, tidak muncul pesaing baru, tidak ada terobosan teknologi baru oleh pesaing saat ini, atau tidak banyak aktivitas dari kelompok-kelompok tekanan publik yang mungkin memengaruhi organisasi. Organisasi-organisasi lain menghadapi lingkungan yang sangat dinamis -peraturan pemerintah cepat berubah dan memengaruhi bisnis mereka, pesaing baru, kesulitan dalam mendapatkan bahan baku, preferensi pelanggan yang terus berubah terhadap produk, dan semacamnya. Secara signifikan, lingkungan yang statis memberi lebih sedikit ketidakpastian bagi para manajer dibanding lingkungan yang dinamis. Karena ketidakpastian adalah sebuah ancaman bagi keefektifan sebuah organisasi, manajemen akan menocba meminimalkannya. Salah satu cara untuk mengurangi ketidakpastian lingkungan adalah melalui penyesuaian struktur organisasi. 

B.      Fungsi Struktur Organisasi

Fungsi struktur dalam sebuah organisasi adalah memberikan informasi kepada seluruh manusia yang menjadi anggotanya untuk mengetahui kegiatan atau pekerjaan yang harus ia kerjakan, berkonsultasi atau bertanggung jawab kepada siapa, sehingga proses kerjasama menuju pencapaian tujuan organisasi dapat terwujud sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Kejelasan gambaran struktur organisasi akan memberikan kemudahan bagi pimpinan untuk mendistribusikan jabatan kepada seseorang yang tepat, sehingga daya guna dan hasil guna dapat terwujud.
Fungsi atau kegunaan struktur dalam sebuah organisasi dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.       Kejelasan Tanggung Jawab. Setiap anggota organisasi harus bertanggung jawab dan apa yang harus dipertanggung jawabkan.
2.       Kejelasan Kedudukan. Kejelasan kedudukan seseorang dalam struktur organsisasi mempermudah melakukan koordinasi maupun hubungan karena adanya keterkaitan penyelesaian suatu fungsi yang dipercayakan kepada seseorang.
3.       Kejelasan Uraian Tugas. Kejelasan uraian tugas dalam struktur organisasi membantu pihak pimpinan untuk melakukan pengawasan dan pengendalian, dan bawahan akan dapat berkonsentrasi dalam melaksanakan suatu pekerjaan karena uraian yang jelas.
4.       Kejelasan Jalur Hubungan. Dalam pelaksaan tugas dan tanggung jawab setiap karyawan atau pegawai dalam sebuah organisasi, maka dibutuhkan kejelasan hubungan yang tergambar dalam struktur, sehingga jalur penyelesaian pekerjaan akan semakin efektif dan dapat saling menguntungkan.

C.      Proses Pengorganisasian

Proses Pengorganisasian adalah suatu cara pengaturan pekerjaan dan pengalokasian pekerjaan di antara para anggota organisasi sehingga tujuan organisasi dapat dicapai secara efisien (Stoner, 1996).
Menurut Stoner, terdapat langkah-langkah dalam proses organisasi, yaitu:
1.        Merincikan seluruh tugas pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk  pencapaian tujuan organisasi.
2.       Membagi beban kerja kepada seseorang atau sekelompok orang.
3.       Mengkombinasikan pekerjaan anggota organisasi dengan efisien.
4.       Penetapan mekanisme untuk mengkoordinasi pekerjaan anggota organisasi dalam satu kesatuan yang harmonis.
5.       Memantau efektivitas organisasi dan mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk mempertahankan atau meningkatkan efektivitas.
Kelima langkah-langkah organisasi ini merupakan sebuah satu-kesatuan yang harus dilakukan secara tepat dan cermat oleh seorang atasan, agar pembagian tugas pekerjaan kepada seluruh bawahannya dapat diberikan secara jelas dan terkoordinasi.

D.      Elemen-Elemen Struktur Organisasi

Menurut Stephen Robbins dan Timothy A. Judge dalam Perilaku Organisasi Buku 2, ada enam elemen kunci yang perlu diperhatikan oleh para manajer ketika hendak mendesain struktur, antara lain:
1.       Spesialisasi pekerjaan. Sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi dibagi-bagi ke dalam beberapa pekerjaan tersendiri.
2.       Departementalisasi. Dasar yang dipakai untuk mengelompokkan pekerjaan secara bersama-sama.
3.       Rantai komando. Garis wewenang yang tanpa putus yang membentang dari puncak organisasi ke eselon paling bawah dan menjelaskan siapa bertanggung jawab kepada siapa.
4.       Rentang kendali. Jumlah bawahan yang dapat diarahkan oleh seorang manajer secara efisien dan efektif.
5. Sentralisasi dan Desentralisasi. Sentralisasi mengacu pada sejauh mana tingkat pengambilan keputusan terkonsentrasi pada satu titik di dalam organisasi. Desentralisasi adalah lawan dari sentralisasi.
6. Formalisasi. Sejauh mana pekerjaan-pekerjaan di dalam organisasi dibakukan.

E.       Bentuk-Bentuk Organsisasi

Berikut adalah bentuk-bentuk organisasi yang ada:

1.       Organisasi Politik
Organisasi politik adalah organisasi atau kelompok yang bergerak atau berkepentingan atau terlibat dalam proses politik dan dalam ilmu kenegaraan, secara aktif berperan dalam menentukan nasib bangsa tersebut.
2.       Organisasi Sosial
Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara.
3.       Organisasi Mahasiswa
Organisasi mahasiswa adalah organisasi yang beranggotakan mahasiswa sebagai wadah kegiatan ko dan atau ekstra kurikuler. Organisasi ini dapat berupa organisasi kemahasiswaan intra kampus, organisasi kemahasiswaan antar kampus, organisasi ekstra kampus maupun semacam ikatan mahasiswa kedaerahan yang pada umumnya beranggotakan lintas atau antar kampus. 
4.       Organisasi Sekolah
Organisasi sekolah adalah sistem yang bergerak dan berperan dalam merumuskan tujuan pendewasaan manusia sebagai mahluk sosial agar mampu berinteraksi dengan lingkungan. 

Sumber:
-          Robbins, Stephen P.; Judge, Timothy A. (2008). Perilaku Organisasi Buku 2, Jakarta: Salemba Empat.
-          Pennings, J. M. Research in Organizational Behavior, vol. 14, Greenwich, CT: JAI Press, 1992



Minggu, 22 September 2013

Pengambilan Keputusan


Menurut George R. Terry pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada. Kemudian, menurut Sondang P. Siagian pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat. Selanjutnya, menurut James A. F. Stoner pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah.
A.      Dasar Pengambilan Keputusan
George R Terry mengatakan bahwa ada lima hal yang menjadi dasar dalam pengambilan keputusan.
1.       Intuisi
Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi adalah pengambilan keputusan  yang berdasarkan perasaan yang sifatnya subyektif.  Dalam pengambilan keputusan berdasarkan intuisi ini, meski waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif pendek, tetapi keputusan yang dihasilkan seringkali relatif  kurang baik karena seringkali mengabaikan dasar-dasar pertimbangan lainnya.
2.       Pengalaman
Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena dengan pengalaman yang dimiliki seseorang, maka dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat memperhitungkan untung-ruginya dan baik-buruknya keputusan yang akan dihasilkan.
3.       Wewenang
Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya, atau oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. Hasil keputusannya dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama dan memiliki otentisitas (otentik),  tetapi  dapat menimbulkan sifat rutinitas, mengasosiasikan dengan praktek diktatorial dan sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan sehingga dapat menimbulkan kekaburan.
4.       Fakta
Pengambilan keputusan berdasarkan data dan fakta empiris dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada.
5.       Rasional
Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasio, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan dan konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. Pengambilan keputusan secara rasional ini berlaku sepenuhnya dalam keadaan yang ideal. Pada pengambilan keputusan secara rasional terdapat beberapa hal sebagai berikut:
1.       Kejelasan masalah: tidak ada keraguan dan kekaburan masalah.
2.       Orientasi tujuan: kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai.
3.       Pengetahuan alternatif: seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya.
4.       Preferensi yang jelas: alternatif bisa diurutkan sesuai kriteria.
5.       Hasil maksimal: pemilihan alternatif terbaik berdasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal.

B.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
Menurut Terry (1989) faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan sebagai berikut: 


1.       Hal-hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan
2.       Setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi
3.       Setiap keputusan janganlah berorientasi pada kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain;
4.       jarang sekali ada 1 pilihan yang memuaskan
5.       pengambilan keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus diubah menjadi tindakan fisik
6.       pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang  cukup lama
7.       diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang baik
8.       setiap keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat diketahui apakah keputusan yang diambil itu betul
9.       setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya.
Kemudian terdapat enam faktor lain yang juga ikut mempengaruhi pengambilan keputusan.
1.    Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.

2.    Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.

3.    Rasional
Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.

4.    Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.

5.    Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.

6.    Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu. 

John D.Miller dalam Imam Murtono (2009)  menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah: jenis kelamin pria atau wanita, peranan pengambilan keputusan, dan keterbatasan kemampuan.
C.      Jenis-Jenis Pengambilan Keputusan
 Jenis-jenis keputusan, dapat diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu keputusan yang direncanakan/diprogram dan keputusan yang tidak direncanakan/tidak terprogram. Pertama, keputusan yang diprogram merupakan keputusan yang bersifat rutin dan dilakukan secara berulang-ulang sehingga dapat dikembangkan suatu prosedur tertentu. Keputusan yang diprogram terjadi jika permasalahan terstruktur dengan baik dan orang-orang tahu bagaimana mencapainya. Permasalahan ini umumnya agak sederhana dan solusinya relatif mudah. Di perguruan tinggi keputusan yang diprogram misalnya keputusan tentang pembimbingan KRS, penyelenggaraan Ujian Akhir Semester, pelaksanaan wisuda, dan lain sebagainya (Gitosudarmo, 1997).
Kedua, keputusan yang tidak diprogram adalah keputusan baru, tidak terstrutur dan tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Tidak dapat dikembangkan prosedur tertentu untuk menangani suatu masalah, apakah karena permasalahannya belum pernah terjadi atau karena permasalahannya sangat kompleks dan penting. Keputusan yang tidak diprogram dan tidak terstruktur dengan baik, apakah karena kondisi saat itu tidak jelas, metode untuk mencapai hasil yang diinginkan tidak diketahui, atau adanya ketidaksamaan tentang hasil yang diinginkan (Wijono, 1999).

Selanjutnya ada 6 hal yang juga termasuk didalam jenis-jenis pengambilan keputusan:

1. Pengambilan keputusan karena ketidak sanggupan: memberikan kajian berlalu, tanpa berbuat apa-apa;
2.  Pengambilan keputusan intuitif bersifat segera, terasa sebagai keputusan yang paling tepat dalam langsung diputuskan;
3. Pengambilan keputusan yang terpaksa, karena sudah kritis: sesuatu yang harus segera dilaksanakan;
4.  Pengambilan keputusan yang reaktif:  ”Kamu telah melakukan hal itu untuk saya, karenanya saya akan melakukan itu untukmu.” Sering kali dilakukan dalam situasi marah atau tergesa-gesa;
5.  Pengambilan keputusan yang ditangguhkan: dialihkan pada orang lain, memberikan orang lain yang bertanggung jawab; dan 
6.  Pengambilan keputusan secara berhati-hati: dipikirkan baik-baik, mempertimbangkan berbagai pilihan.

D.      Kondisi Pengambilan Keputusan
Ada tiga kondisi yang mungkin terjadi saat pengambilan keputusan, setiap kondisi berbeda dalam menentukan pengambilan keputusan.
a.       Kondisi Pasti
Dalam kondisi pasti, keputusan diambil menggunakan teknik program linear, yaitu suatu model matematika yang digunakan untuk menyelesaikan masalah optimisasi yaitu memaksimumkan atau meminimumkan fungsi tujuan yang bergantung pada sejumlah variabel input. Hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah mencari tahu tujuan penyelesaian masalah dan apa penyebab masalah tersebut. Jadi apabila kita menghadapi kondisi yang pasti, program linear berguna untuk mengoptimalkan tujuan.
Selain menggunakan teknik program linear, metode simpleks juga digunakan apabila kita menghadapi kondisi pasti dalam mengambil keputusan. Metode simpleks merupakan salah satu teknik penentuan solusi optimal yang digunakan dalam pemrograman linier. Penentuan solusi optimal didasarkan pada teknik eliminasi Gauss Jordan. Penentuan solusi optimal dilakukan dengan memeriksa titik ekstrim satu persatu denagan cara perhitungan interaktif. Sehingga penentuan solusi optimal dengan simpleks dilakukan dengan thap demi tahap yang disebut interasi.
Dan yang dapat digunakan dalam kondisi pasti ini adalah menggunakan Analisis Jaringan Kerja (CPM dan PERT). PERT merupakan singkatan dari Program Evaluation and Review Technique (teknik menilai dan meninjau kembali program), sedangkan CPM adalah singkatan dari Critical Path Method (metode jalur kritis) dimana keduanya merupakan suatu teknik manajemen. Teknik PERT adalah suatu metode yang bertujuan untuk sebanyak mungkin mengurangi adanya penundaan, maupun gangguan produksi, serta mengkoordinasikan berbagai bagian suatu pekerjaan secara menyeluruh dan mempercepat selesainya proyek. Teknik ini memungkinkan dihasilkannya suatu pekerjaan yang terkendali dan teratur, karena jadwal dan anggaran dari suatu pekerjaan telah ditentukan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan. 
b.      Kondisi Ketidakpastian
Kondisi ketidakpastian dapat diketahui atas keadaaan sebagai berikut: Ada beberapa alternatif tindakan yang terlihat dan Nilai probabilitas masing-masing kejadian tidak diketahui memiliki nilai payoff sebagai hasil kombinasi untuk suatu tindakan dan kejadian tidak pasti.
Berbagai kriteria yang dapat dipilih dalam menghadapi kondisi ketidakpastian dalam mengambil keputusan adalah Kriteria Maximax, Kriteria Maximin, dan juga Decision Tree
1.       Kriteria Maximax
Kriteria ini mencari hasil paling baik (maximum) untuk setiap pilihan investasi, dan kemudian membuat keputusan berdasarkan nilai maximum dari hasil maximum itu. Kriteria ini memilih alternatif dengan keuntungan setinggi mungkin sehingga disebut juga kriteria keputusan optimistik.
2.       Kriteria Maximin
Kriteria ini mencari alternatif maximum dari hasil yang minimum dari setiap alternatif. Pertama, dicari hasil minimum dari setiap alternatif, dan selanjutnya memilih alternatif dengan nilai terbesar dari yang terkecil tadi. Kriteria ini memilih alternatif dengan kerugian sekecil mungkin sehingga disebut juga kriteria keputusan pesimistik
3.       Decision Tree (Pohon Keputusan)
Decision Tree (Pohon keputusan) adalah salah satu metode klasifikasi yang paling populer karena mudah untuk diinterpretasi oleh manusia. Pohon keputusan adalah model prediksi menggunakan struktur pohon atau struktur berhirarki. Konsep dari pohon keputusan adalah mengubah data menjadi pohon keputusan dan aturan-aturan keputusan. Manfaat utama dari penggunaan pohon keputusan adalah kemampuannya untuk mem-break down proses pengambilan keputusan yang kompleks menjadi lebih simpel sehingga pengambil keputusan akan lebih menginterpretasikan solusi dari permasalahan. Pohon Keputusan juga berguna untuk mengeksplorasi data, menemukan hubungan tersembunyi antara sejumlah calon variabel input dengan sebuah variabel target. Pohon keputusan memadukan antara eksplorasi data dan pemodelan, sehingga  sangat bagus sebagai langkah awal dalam proses pemodelan bahkan ketika dijadikan sebagai model akhir dari beberapa teknik lain. Sering terjadi tawar menawar antara keakuratan model dengan transparansi model. Dalam beberapa aplikasi, akurasi dari sebuah klasifikasi atau prediksi adalah satu-satunya hal yang ditonjolkan, misalnya sebuah perusahaan direct mail membuat sebuah model yang akurat untuk memprediksi anggota mana yang berpotensi untuk merespon permintaan, tanpa memperhatikan bagaimana atau mengapa model tersebut bekerja.
c.       Kondisi beresiko
Resiko adalah sesuatu, dalam hal ini yang akan diterima atau ditanggung oleh seseorang sebagai konsekuensi atau akibat dari suatu tindakan.
Kondisi beresiko dalam pengambilan keputusan adalah pengambilan keputusan dimana terjadi hal-hal sebagai berikut :
·         Alternatif yang harus dipilih megandung lebih dari satu kemungkinan hasil.
·         Pengambilan keputusan memiliki lebih dari satu alternatif tindakan.
·         Diasumsikan bahwa pengambil keputusan mengetahui peluang yang akan terjadi terhadap berbagai tindakan dan hasil.
·         Risiko terjadi karena hasil pengumpulan keputusan tidak dapat diketahui dengan pasti, walaupun diketahui nilai probabilitasnya.
·         Pada kondisi ini, keadaan alam sama dengan kondisi tidak pasti. Bedanya dalam kondisi ini, ada informasi atau data yang akan mendukung dalam membuat keputusan, berupa besar atau nilai peluang terjadinya bermacam-macam keadaan.
·         Teknik pemecahannya menggunakan konsep probabilitas, seperti model keputusan probabilistik, model inventori probabilistik, model antrian probabilistik.
Bentuk penyelesaian tersebut, dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan yaitu dengan cara pendekatan penentuan nilai harapan, nilai kesempatan yang hilang, dan nilai harapan informasi sempurna.
a. Nilai harapan ( Expected Value )
Nilai harapan adalah jumlah dari kemungkinan nilai-nilai yang diharapkan terjadi terhadap probabilitas masing – masing dari suatu kejadian yang tidak pasti. 


b. Nilai Kesempatan yang hilang.
Nilai kesempatan yang hilang adalah sejumlah payoff yang kemungkinan hilang karena tidak terpilihnya suatu alternative atau tindakan dengan pay off terbesar bagi kejadian tidak pasti yang sebenarnya terjadi.
Untuk menentukan keputusan berdasarkan nilai kesempatan yang hilang (EOL), secara rasional dipilih dari nilai EOL ( Expected Opportunity Loss ) minimum. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari rasa penyesalan atau ketidakpuasan dikemudian hari. Jadi prinsip dasar EOL adalah membuat minimum kerugian yang disebabkan oleh pemilihan alternative tertentu.
c. Nilai Harapan informasi sempurna.
Nilai harapan informasi sempurna (Expected value of perfect information, EV of PI (EVPI)) adalah selisih antara nilai harapan dengan nilai informasi sempurna ( Expeceted value with perfect information, EV with PI (EVWPI)) dan nilai harapan tanpa informasi sempurna (Expected value without perfect information, EV without PI (EV)).
E.       Pendekatan Pengambilan Keputusan

1.       Pendekatan Rasional
Pendekatan rasional dalam pengambilan sebuah keputusan adalah pengambilan keputusan yang didasarkan atas logika bisnis yang wajar dengan menganalisa berbagai fakta yang ada. 
Pendekatan rasional ini juga didasarkan atas pertimbangan teoritis. Kebanyakan yang menggunakan pendekatan ini mereka para wirausahawan (pengusaha) yang memiliki Basik Akademisi. Mereka memang sudah memiliki dasar pengetahuan manajerial yang baik, paling tidak mereka memiliki kerangka berfikir yang analisis.
2.       Pendekatan Rasionalitas Terbatas
Pendekatan Rasionalitas Terbatas atau Bounded Rationality Approach adalah pendekatan yang mengasumsikan bahwa pembuatan keputusan bukanlah suatu proses rasional secara sempurna, namun sebaliknya suatu proses yang penuh dengan hambatan dan batasan.
3.       Pendekatan Intuisi
Pendekatan Intuisi adalah pendekatan yang berdasarkan emosi dan perasaan. Pengambil keputusan intuitif emosional menyukai kebiasaan dan pengalaman, perasaan yang mendalam, pemikiran yang reflektif dan naluri dengan menggunakan proses alam bawah sadar. Proses ini dapat didororg oleh naluri, orientasi kreatif,dan konfrontasi kreatif. Pendekatan intuisi mempertimbangkan sejumlah alternatif dan peluang, secara serempak meloncat dari satu langkah dalam analisis atau mencari yang lain dan kembali .Dalam pengambilan keputusan dengan menggunakan intuisi tidak banyak tergantung pada fakta yang lengkap. Pendekatan intuitif berguna untuk mencegah proses pengambilan keputusan yang dikaburkan oleh emosi.

F.       Gaya Pengambilan Keputusan
Secara teoritis ada 4 gaya pengambilan keputusan yang biasanya dilakukan oleh seorang pemimpin. Keempat gaya tersebut adalah:
1.    Direktif/Mengarahkan
Sifat ini cenderung bersifat efisien, logis, pragmatis, dan sistematis dalam memecahkan masalah. Gaya ini berfokus pada fakta dan penyelesaian masalah secara lebih cepat dan juga berfokus jangka pendek. Gaya mempunyai toleransi rendah pada ambiguitas, dan berorientasi pada tugas dan masalah teknis. Gaya ini juga suka menggunakan kekuasaan, keinginan untuk mengontrol, dan menampilkan kekuasaan otokratik.
2.    Analitis
Gaya analitis mempunyai toleransi yang tinggi untuk ambiguitas dan tugas yang  kuat serta orientasi teknis. Jenis ini suka menganalisis situasi; pada kenyataannya, mereka cenderung terlalu menganalisis sesuatu. Mereka mengevaluasi lebih banyak informasi dan alternatif darpada pembuat keputusan direktif. Mereka juga memerlukan waktu lama untuk mengambil kepuputusan mereka merespons situasi baru atau tidak menentu dengan baik. Mereka juga cenderung mempunyai gaya kepemimpinan otokratis.
3.    Konseptual
Gaya konseptual mempunyai toleransi tinggi untuk ambiguitas, orang yang kuat dan peduli pada lingkungan sosial. Mereka berpandangan luas dalam memecahkan masalah dan suka mempertimbangkan banyak pilihan dan kemungkinan masa mendatang. Pembuat keputusan ini membahas sesuatu dengan orang sebanyak mungkin untuk mendapat sejumlah informasi dan kemudian mengandalkan intuisi dalam mengambil keputusan. Pembuat keputusan konseptual juga berani mengambil risiko dan cenderung bagus dalam menemukan solusi yang kreatif atas masalah. Akan tetapi, pada saat bersamaan, mereka dapat membantu mengembangkan pendekatan idealistis dan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan.
4.    Perilaku
Gaya perilaku ditandai dengan toleransi ambiguitas yang rendah, orang yang kuat dan peduli lingkungan sosial. Pembuat keputusan cenderung bekerja dengan baik dengan orang lain dan menyukai situasi keterbukaan dalam pertukaran pendapat. Mereka cenderung menerima saran, sportif dan bersahabat, dan menyukai informasi verbal daripada tulisan. Mereka cenderung menghindari konflik dan sepenuhnya peduli dengan kebahagiaan orang lain. Akibatnya, pembuat keputusan mempunyai kesulitan untuk berkata 'tidak' kepada orang lain, dan mereka tidak membuat keputusan yang tegas.




Sumber:
-          Eddy Herjanto. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi Ketiga, Grasindo, Jakarta
-          Ivanevich, John M. Perilaku dan Manajemen Organisasi.  Erlangga, Jakarta

Jumat, 13 September 2013

Dasar-Dasar Perencanaan

Dasar-Dasar Perencanaan

A.      Perencanaan

1.       Pengertian Perencanaan
Dalam manajemen, perencanaan (planning) adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan tidak akan dapat berjalan.
Menurut Louis A Allen perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Menurut George R Terry perencanaan adalah  dasar pemikiran dari tujuan dan penyusunan langkah-langkah yang akan dipakai untuk mencapai tujuan.

2.       Tujuan Perencanaan
Stephen Robbins dan Mary Coulter mengemukakan tentang macam-macam tujuan perencanaan, yaitu:
a.       Memberikan pengarahan baik untuk manajer maupun karyawan nonmanajerial. Dengan rencana, karyawan dapat mengetahui apa yang harus mereka capai, dengan siapa mereka harus bekerja sama, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. Tanpa rencana, departemen dan individual mungkin akan bekerja sendiri-sendiri secara serampangan, sehingga kerja organisasi kurang efesien.
b.      Mengurangi ketidakpastian. Ketika seorang manajer membuat rencana, ia dipaksa untuk melihat jauh ke depan, meramalkan perubahan, memperkirakan efek dari perubahan tersebut, dan menyusun rencana untuk menghadapinya.
c.       Meminimalisir pemborosan. Dengan kerja yang terarah dan terencana, karyawan dapat bekerja lebih efesien dan mengurangi pemborosan. Selain itu, dengan rencana, seorang manajer juga dapat mengidentifikasi dan menghapus hal-hal yang dapat menimbulkan inefesiensi dalam perusahaan.
d.      Menetapkan tujuan dan standar yang digunakan dalam fungsi selanjutnya, yaitu proses pengontrolan dan pengevalusasian. Proses pengevaluasian atau evaluating adalah proses membandingkan rencana dengan kenyataan yang ada. Tanpa adanya rencana, manajer tidak akan dapat menilai kinerja perusahaan.
Selain itu Delmar dan Shane  dalam “Does Business Planning Facilitate the Development of New Ventures" menunjukkan bahwa adanya hubungan perencanaan dengan kinerja perusahaan.

B.      Konsep Dasar Perencanaan

1.       Pengertian Konsep Dasar Perencanaan
Konsep dasar perencanaan adalah dasar-dasar yang ditentukan dalam membuat perencanaan. Hal ini meliputi Tipe-tipe perencanaan, tahapan perencanaan, proses perencanaan, dan syarat perencanaan.

2.       Tujuan Konsep Dasar Perencanaan
Tujuan dari konsep dasar perencanaan sama dengan tujuan-tujuan perencanaan, yaitu:
1.       Memberikan pengarahan
2.       Mengurangi ketidakpastian
3.       Meminimalisir pemborosan
4.       Menetapkan tujuan dan standar


C.      Konsep Dasar Perencanaan Pendidikan

1.       Pengertian Konsep Dasar Perencanaan Pendidikan
Menurut Yusuf Enoch perencanaan pendidikan, adalah suatu proses yang yang mempersiapkan seperangkat alternative keputusan bagi kegiatan masa depan yang diarahkan kepadanpencapaian tujuan dengan usaha yang optimal dan mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang ada di bidang ekonomi, sosial budaya serta menyeluruh suatu Negara.
Secara konseptual perencanaan pendidikan sangat ditentukan oleh cara, sifat dan proses pengambilan keputusan sehingga nampaknya dalam hal ini terdapat banyak komponen-komponen yang ikut serta dalam proses pengambilan keputusan ini, antara lain :
a.        Tujuan pembangunan nasional bangsa yang akan mengambil keputusan dala rangka kebijaksanaan nasional dalam bidang pendidikan.
b.      Masalah strategi adalah termasuk penganganan policy (kebijakan) secara operasional yang akan mewarnai proses pelaksanaan dari perencanaan pendidikan.
Karakteristik perencanaan pendidikan ditentukan oleh konsep dan pemahaman tentang pendidikan. Dengan mempertimbangkan cirri-ciri pendidikan dalam perananya dalam proses pembangunan, maka perencanaan pendidikan mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
a.    Mengutamakan nilai-nilai manusiawi,
b.    Memberikan kesempatan untuk mengembangkan segala potensi peserta didik seoptimal mungkin
c.     Memberikan kesempatan yang sama bagi peserta didik.
d.    Komprehensif dan sistematis dalam arti tidak praktikal atau segmentaris tapi menyeluruh dan terpadu

2.       Fungsi Konsep Dasar Perencanaan Pendidikan
Fungsi atau tujuan perencanaan pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut:
1.       Merupakan usaha untuk menetapkan atau memformulasikan tujuan yang dipilih.
2.       Memungkinkan kita dapat mengetahui sampai dimana tujuan pendidikan yang ditetapkan telah dicapai.
3.       Memudahkan kita untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan yang timbul dalam mencapai tujuan pendidikan.
4.       Memungkinkan kita untuk menghindari pertumbuhan dan perkembangan suatu usaha yang tak terkontrol, misalnya dalam mengembangkan kurikulum, kita mempunyai kecenderungan untuk selalu menambah jumlah dan jenis matakuliah dari yang sudah ada.

D.      Analisis Posisi Perencanaan Pendidikan
Perencanaan pendidikan berpusat kepada tiga komponen utama, yaitu:
1.       Perencanaan harus menunjukkan tujuan yang harus dicapai.
 Tanpa tujuan yang jelas pembangunan pendidikan tidak akan terarah dan tak akan terkendali. Tujuan juga merupakan hal yang penting dalam sebuah perencanaan.
2.       Bagaimana perencanaan itu dimulai.
Pembangunan harus dimulai dari titik yang pasti, titik ini harus ditentukan berdasarkan evaluasi atau kajian terhadap apa yang telah diperbuat bukan apa yang harus diperbuat.
3.       Bagaimana cara mencapai tujuan yang ditentukan
Untuk mencapai tujuan kita juga perlu mencari alternatif. Alternatif ini bertujuan agar tujuan lebih mudah dicapai dan tetap sesuai perencanaan.

E.       Mekanisme Perencanaan Pendidikan
Perencanaan pendidikan teridir dari beberapa jenis tergantung dari pandangan seseorang .
1.       Perencanaan pendidikan nasional
Perencanaan ini mencakup seluruh usaha pendidikan untuk mencerdaskan dan membangun bangsa.
2.       Perencanaan pendidikan regional
Perencanaan ini mencakup tingkat provinsi,kabupaten, atau kota yang mencakup seluruh jenis pendidikan untuk daerah itu.
3.       Perencanaan pendidikan kelembagaan
Perencanaan pendidikan yang mencakup satu institusi atau lembaga pendidikan tertentu
4.       Perencanaan pendidikan terpadu
Perencanaan pendidikan mencakup seluruh aspek esensial pemabangunan pendidikan dalam pola dasar perencanaan pembangunan nasional
5.       Perencanaan pendidikan komprehensif
Perencanaan pendidikan yang mengandung konsep keseluruhan yang disusun secara sistematik
6.       Perencanaan pendidikan strategic
Perencanaan yang mengandung pendekatan strategic yang dihadapi dalam upaya membangun pendidikan.



Sumber

Minggu, 08 September 2013

Perkembangan Teori Manajemen dan Fungsi


A.      Sejarah Manajemen
Manajemen telah ada dari sejak dulu kala, ini bisa dibuktikan dengan adanya Piramid Giza di Mesir. Piramida Giza tak akan berhasil dibangun jika tidak ada seseorang tanpa memedulikan apa sebutan untuk manajer ketika itu yang merencanakan apa yang harus dilakukan, mengorganisir manusia serta bahan bakunya, memimpin dan mengarahkan para pekerja, dan menegakkan pengendalian tertentu guna menjamin bahwa segala sesuatunya dikerjakan sesuai rencana.
Daniel Wren dalam bukunya The Evolution of Management Thought (2009), membagi  evolusi pemikiran manajemen dalam empat fase, yaitu pemikiran awal, era manajemen sains, era manusia sosial, dan era modern.

1. Pemikiran Awal Manajemen
2. Era Manajemen Sains
3. Era Manusia Sosial
4. Era Modern

B.      Tokoh-Tokoh Manajemen

1.       Adam Smith
John Adam Smith (5 Juni 1723 - 17 Juli 1790) adalah seorang filsuf dan pelopor ekonomi modern. Karyanya yang terkenal adalah The Theory of Moral Sentiments dan An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations Adam Smith juga disebut sebagai “Bapak dari ekonomi modern”.

2.       Robert Owen
Robert Owen (14 Mei  1771 - 17 November 1858) adalah pemikir utama sosialisme utopis, dia adalah seorang pelaku bisnis yang sukses yang menyumbangkan banyak laba dari bisnisnya demi peningkatan hidup karyawannya. Dia dianggap sebagai "Bapak" gerakan koperasi.   

3.       Fredrick Winslow Taylor
 Frederick Winslow Taylor (20 Maret 1856 - 21 Maret 1915) adalah seorang insinyur mekanik asal Amerika Serikat yang terkenal atas usahanya meningkatkan efesiensi industri. Ia dikenal sebagai "bapak manajemen ilmiah" dan pemimpin intelektual dari Gerakan Efesiensi.

4.       Henry Fayol
Henry Fayol ( 29 Juli 1841 - 19 November 1925) adalah seorang Perancis insinyur pertambangandan direktur tambang yang mengembangkan teori umum dari administrasi bisnis. Dia dan rekan-rekannya mengembangkan teori ini secara terpisah dari manajemen ilmiah. Dia adalah salah satu kontributor yang paling berpengaruh untuk konsep manajemen modern

5.       Elton Mayo
George Elton Mayo (1880-1949), ahli teori sosial dan psikolog industri. Dia terkenal dengan percobaan-percobaan Howthorne, dimana hubungan manusiawi menggambarkan manajer bertemu atau berinteraksi dengan bawahan. Bila moral dan efisiensi kerja memburuk, maka hubungan manusiawi dalam organisasi juga buruk. Hasil percobaan Howthorne menyatakan bahwa kenaikan produktivitas bukan diakibatkan oleh insentif keuangan.Rantai reaksi emosional antar pekerja berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas, perhatian khusus dan simpatik sangat berpengaruh.

6.       Chris Argyris
Chris Argyris(16 Juli 1923-2008) adalah Profesor Emeritus diHarvard Business School, dan Pemimpin Pemikiran di Memantau Kelompok . Ia dikenal untuk pekerjaan mani di daerah tersebut dari "Belajar Organisasi".Mengatakan bahwa organisasi sebagai sistem sosial atau sistem antar hubungan budaya.

C.      Fungsi Manajemen Menurut Para Tokoh

1.       Menurut Henry Fayol,
Menurut Henry Fayol, fungsi manajemen adalah:
1.       Planning
2.       Organizing
3.       Staffing
4.       Leading
5.       Controlling

2.       Menurut  George R Terry
 Menurut G.R Terry , fungsi manajemen adalah:
1.       Perencanaan (planning)
2.       Pengorganisasian (organization)
3.       Penggerakan (actuating)
4.       Pengawasan (controlling)

3.       Menurut  James A.F Stoner
Menurut James A.F Stoner,  fungsi manajemen adalah:
1.       Perencanaan (planning)
2.       Pengorganisasian (organization)
3.       Memimpin (to lead.)
4.       Pengendalian (controlling)

A.      Sumber