A. Pengertian
Knowledge Management
Knowledge management atau Manajemen Pengetahuan
adalah umpulan
perangkat, teknik, dan strategi untuk mempertahankan, menganalisis,
mengorganisasi, meningkatkan, dan membagikan pengertian dan pengalaman.
Pengertian dan pengalaman semacam itu terbangun atas pengetahuan, baik yang
terwujudkan dalam seorang individu atau yang melekat di dalam proses dan
aplikasi nyata suatu organisasi. Fokus dari manajemen pengetahuan adalah untuk menemukan
cara-cara baru untuk menyalurkan data mentah ke bentuk informasi yang
bermanfaat, hingga akhirnya menjadi pengetahuan.
Terdapat beberapa definisi manajemen pengetahuan, yang dirangkum Singh
dalam Cut Zurnali (2008), yaitu:
1. Menurut Dimttia dan Oder (2001), manajemen pengetahuan
adalah mengenai penggalian dan pengorganisasian pengetahuan untuk mengembangkan
organisasi yang menguntungkan dan lebih efisien. Secara terperinci Dimttia dan
Oder memaparkan bahwa manajemen pengetahuan merupakan proses menangkap keahlian
kolektif organisasional, di mana pun pengetahuan tersebut berada, baik di dalam
database, pada paper-paper, atau di kepala orang, dan kemudian mendistribusikan
pengetahuan tersebut ke mana pun agar dapat menghasilkan pencapaian yang
terbesar.
2. Menurut Wiig (1999), manajemen pengetahuan adalah
bangunan sistematis, eksplisit dan disengaja, pembaharuan, dan aplikasi
pengetahuan untuk memaksimalkan efektivitas yang berkenaan dengan pengetahuan
organisasi dan pengembalian kembali aset pengetahuan organisasi.
3. Menurut Townley (2001), manajemen pengetahuan adalah
seperangkat proses menciptakan dan berbagi pengetahuan ke seluruh organisasi
untuk mengoptimalkan pencapaian misi dan tujuan organisasi. Jadi, manajemen
pengetahuan adalah mengenai meningkatkan penggunaan pengetahuan organisasional
melalui praktik-praktik manajemen informasi dan pembelajaran organisasi untuk
mencapai keunggulan kompetetitif dalam pengambilan keputusan.
Cut
Zurnali (2008) men 1986, saat menulis buku pertamanya mengenai topik Knowledge
Management Foundations yang dipublikasikan pad gemukakan
istilah knowledge management pertama sekali digunakan oleh Wiig
pada tahun a tahun 1993. Knowledge
management merupakan kekhususan
organisasi (organization-specific), ketika perhatian dasarnya adalah ekploitasi
dan pengembangan organizational knowledge assets kepada
tujuan-tujuan organisasi selanjutnya. Knowledge management bukan merupakan sesuatu yang lebih
baik (better things),
tapi untuk mengetahui bagaimana mengerjakan sesuatu dengan lebih baik (things better).
B. Model Konseptual Manajemen Pengetahuan
Despress dan Chauval menganalisis sepuluh model
konseptual KM yang diungkapkan oleh beberapa pakar dan sekaligus praktisi. Dari
kesepuluh model yang diungkapkan Despres dan Chauval tersebut, penulis mencoba
mengklasifikasikannya kedalam dua kategori, yaitu kategori sederhana dan
kategori kompleks sebagai berikut:
Model
Konseptual KM Sederhana:
1. Model SECI
(Nonaka, dkk)
2. Model OK Net
(Carayannis)
3. Model
Intelectual Capital (Edvinsson)
4. Model Ecology
of KM (Snowden)
5. Model Taxonomy
of KM (Despres &Chauval)
Model Konseptual KM Kompleks:
1. Model N-Form
Organization (Hedlund)
2. Model Three
Pillars of KM (Wiig)
3. Model
Intellectual Capital Management (Van Burren)
4. Model Knowing
and Knowledge (Earl)
5. Model
Knowledge Management Processes (Inkpen & Dinur)
C. Unsur-Unsur
Manajemen Pengetahuan
Dalam bagian
akhir bukunya, sebenarnya, Despres dan Chauval membahas tentang unsur-unsur Knowledge
Management mengacu pada kesepuluh model tersebut. Unsur-unsur tersebut meliputi:
waktu, bentuk dan jenis pengetahuan, ruang social, konteks, transformasi dan dinamika,
penghubung dan media, dan budaya pengetahuan. Unsur-unsur KM tersebut dapat
diklasifikasikan kedalam suatu konstelasi yang mudah dipahami. Unsur-unsur KM dapat
diidentifikasi kedalam beberapa aspek, yaitu apa, siapa, bagaimana, dan dimana.
·
Apa; adalah acuan
tentang obyek sentral yang dikelola dalam KM. Bicara obyek KM maka terdiri dari
dua jenis, yaitu pengetahuan tacit (tacit knowledge) dan pengetahuan eksplisit
(explicit knowledge). Walapun beberapa pakar menamakannya dengan istilahberbeda,
seperti articulated knowledge (Model N-Form Organization, Hedlund) untukpengetahuan
eksplisit atau knowing (Model Knowling and Knowledge, Earl dan Model OK
Net, Carayannis) untuk pengetahuan (knowledge). Obyek sentral ini, pada
akhirnyaakan menjadi asset intelektual, modal intelektual dan menjadi human
capital bagiorganisasi (Model Edvinsson, Model Snowden, Model Van Buren).
·
Siapa; adalah acuan
tentang aktor pelaksana daripada KM tersebut dalam proses implementasinya.
Aktor pelaksana tersebut adalah agregasi sosial yang meliputi individu (dalam
dan luar organisasi, kelompok/komunitas (dalam dan luar organisasi), dan organisasi
itu sendiri. Secara eksplist terlihat pada model SECI-Nonaka, model Earl, model
N-Form,
·
Bagaimana; adalah acuan
tentang bagaimana proses obyek dan aktor pelaksana KMmemperoleh dan
mentrasnformasi pengetahuan. Nonaka menamakannya dengandinamika interaksi (interaction
dynamic). Dalam semua model membahas bagaimana proses aktifitas atau
interaksi yang sebaiknya terjadi, tapi tidak semua secara eksplisit menjelaskan
bagaimana peran teknologi dalam mendukung proses tersebut. Misal, bagaimana
pengetahuan tacit dikonversi menjadi tacit lain (sosialisasi menurut Nonaka,
penciptaan kompetensi menurut Snowden, atau not knowing what you know dan not
knowing what you don’tknow menurut Earl yang diadaptasi oleh Carayannis), dari
tacit menjadi eksplisit, darieksplisit menjadi eksplisit, dan dari eksplisit
menjadi tacit dengan berbagai istilah.
·
Dimana; adalah acuan
tentang ruang atau tempat dimana dinamika interaksi atau aktifitas perolehan
dan penciptaan pengetahuan terjadi. Hampir semua model menjelaskan level ruang
sosial dimana aktifitas terjadi, yaitu level individu, kelompok, organisasi dan
lintas organisasi. Model yang menjelaskan ruang atau tempat dimana interaksi
pengetahuan terjadi adalah model Nonaka-Konno (Model SECI yang diadaptasi, 1998)
yang mengistilahkannya dengan Ba (originating Ba, Interacting Ba, Cyber Ba, dan
Exercising Ba). Mengenai ruang ini, secara implisit semua model menjelaskan
bahwa interaksi pengetahuan dapat terjadi secara face to-face, real time
(synchronous), maupun tidak real time (asynchronous) melalui dunia maya (cyber
world).
D. Sistem Pakar (Expert System) dalam Knowledge
Management
Sistem pakar (expert system) merupakan salah satu teknologi andalan
dalam knowledge management, terutama melalui empat alur skema penerapan atau
aplikasi dalam suatu organisasi, yaitu:
1. Case-based reasoning (CBR) yang merupakan representasi
knowledge berdasarkan pengalaman, termasuk kasus dan solusinya;
2. Rule-based reasoning (RBR) mengandalkan serangkaian
aturan-aturan yang merupakan representasi dari knowledge dan pengalaman
karyawan/manusia dalam memecahkan kasus-kasus yang rumit yang sedang dihadapi;
3. Model-based reasoning (MBR) melalui representasi
knowledge dalam bentuk atribut, perilaku, antar hubungan maupun simulasi proses
terbentuknya knowledge;
4. Constraint-satisfaction reasoning yang merupakan
kombinasi antara Rule-based reasoning (RBR) dan Model-based reasoning (MBR).
Di dalam konfigurasi yang demikian, dimungkinkan pengembangan knowledge management di salah satu unit organisasi dokumentasi dan informasi dalam bentuk:
1. Proses mengoleksi, mengorganisasikan,
mengklasifikasikan, dan mendiseminasikan (menyebarkan) knowledge ke seluruh
unit kerja dalam suatu organisasi agar knowledge tersebut berguna bagi siapapun
yang memerlukannya,
2. Kebijakan, prosedur yang dipakai untuk mengoperasikan
database dalam suatu jaringan intranet yang selalu up-to-date,
3. Menggunakan ICT (Information and Communication
Technology) yang tepat untuk menangkap knowledge yang terdapat di dalam pikiran
individu sehingga knowledge itu bisa dengan mudah digunakan bersama dalam suatu
organisasi,
4. Adanya suatu lingkungan untuk pengembangan aplikasi
sistem pakar (expert systems);
5. Analisis informasi dalam databases, data mining atau
data warehouse sehingga hasil analisis tersebut dapat segera diketahui dan
dipakai oleh lembaga,
6. Mengidentifikasi kategori knowledge yang diperlukan
untuk mendukung lembaga, mentransformasikan basis knowledge ke basis yang baru,
7. Mengkombinasikan pengindeksan, pencarian knowledge
dengan pendekatan semantics atau syntacs,
8. Mengorganisasikan dan menyediakan know-how yang
relevan, kapan, dan bila mana diperlukan, mencakup proses, prosedur, paten,
bahan rujukan, formula, best practices, prediksi dan cara-cara memecahkan
masalah. Secara sederhana, intranet, groupware, atau bulletin boards adalah
sarana yang memungkinkan lembaga menyimpan dan mendesiminasikan knowledge,
9. Memetakan knowledge (knowledge mapping) pada suatu
organisasi baik secara on-line atau off-line, pelatihan, dan perlengkapan akses
ke knowledge.
Birkinsaw dalam Cut Zurnali (2008) juga menggaris bawahi tiga keadaan yang sangat memengaruhi berhasil atau tidaknya knowledge management yaitu:
1. Penerapannya tidak hanya menghasilkan knowledge baru,
tetapi juga untuk mendaur-ulang knowledge yang sudah ada.
2. Teknologi informasi belum sepenuhnya bisa menggantikan
fungsi-fungsi jaringan sosial antar anggota organisasi.
3. Sebagian besar organisasi tidak pernah tahu apa yang
sesungguhnya mereka ketahui, banyak knowledge penting yang harus ditemukan
lewat upaya-upaya khusus, padahal knowledge itu sudah dimiliki sebuah
organisasi sejak lama.
Dengan demikian, knowledge management akan membuat berbagi informasi (shared information) tersebut menjadi bermanfaat. Knowledge management termasuk strategi dari tanggung jawab dan tindak lanjut (commitment), baik untuk meningkatkan efektivitas organisasi maupun untuk meningkatkan peluang/kesempatan.
E. Tujuan dari Knowledge Management
Tujuan dari knowledge management adalah meningkatkan kemampuan
organisasi untuk melaksanakan proses inti lebih efisien. Davenport et.al (1988)
dalam Cut Zurnali (2008) menjelaskan sasaran umum dari sistem knowledge
management dalam praktik adalah sebagai berikut:
1. Menciptakan knowledge: Knowledge diciptakan seiring
dengan manusia menentukan cara baru untuk melakukan sesuatu atau menciptakan
know-how. Kadang-kadang knowledge eksternal dibawa ke dalam
organisasi/institusi;
2. Menangkap knowledge: Knowledge baru diidentifikasikan
sebagai bernilai dan direpresentasikan dalam suatu cara yang masuk akal dan
dapat dicerna;
3. Menjaring knowledge: Knowledge baru harus ditempatkan
dalam konteks agar dapat ditindaklanjuti. Hal ini menunjukkan kedalaman manusia
(kualitas tacit) yang harus ditangkap bersamaan dengan fakta explicit;
4. Menyimpan knowledge: Knowledge yang bermanfaat harus
dapat disimpan dalam format yang baik dalam penyimpanan knowledge, sehingga
orang lain dalam organisasi dapat mengaksesnya atau menggunakannya;
5. Mengolah knowledge: Sebagaimana sebuah perpustakaan
(library), knowledge harus dibuat up-to-date. Hal tersebut harus di review
untuk menjelaskan apakah knowledge tersebut relevan atau akurat.
6. Menyebarluaskan knowledge: Knowledge harus tersedia dalam
format yang bermanfaat untuk semua orang atau anggota dalam organisasi yang
memerlukan knowledge tersebut, di mana pun dan tersedia setiap saat.
Sumber: Uwes Anis Chaeruman, Analisis
Model Konseptual tentang “KNOWLEDGE MANAGEMENT”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar